Akhir Pencarian: Dua Pendaki Jepang Berhasil Ditemukan di Ketinggian Gunung Spantik, Pakistan

mikephilipsforcongress.com – Dua pendaki gunung asal Jepang, Ryuseki Hiraoka dan Atsushi Taguchi, yang sebelumnya dinyatakan hilang saat memanjat Gunung Spantik di Pakistan, akhirnya berhasil ditemukan. Meskipun kondisi kesehatan mereka masih belum dipastikan.

Menurut laporan yang dirilis oleh AFP pada Kamis (13/6/2024), Hiraoka dan Taguchi telah berusaha mencapai puncak Gunung Spantik, yang memiliki ketinggian sekitar 7.027 meter atau 23.054 kaki, yang terletak di pegunungan Karakoram. Mereka dilaporkan hilang sebelum akhirnya ditemukan oleh tim penyelamat.

Naiknam Karim, CEO Adventure Tours Pakistan (ATP), menyampaikan kepada AFP bahwa tim penyelamat berhasil menemukan kedua pendaki berdasarkan ciri-ciri pakaian yang mereka kenakan saat itu. Meskipun demikian, tim penyelamat belum dapat memastikan kondisi kesehatan kedua pendaki tersebut.

Karim juga menjelaskan bahwa kedua pendaki itu terakhir terlihat oleh sebuah helikopter militer selama operasi pencarian. Mereka tidak sempat melapor ke basecamp sebelum memulai pendakian mereka.

“Sejak memulai ekspedisi mereka, belum ada komunikasi yang terjalin antara kedua pendaki Jepang tersebut dengan petugas di basecamp,” ujar Karim.

Informasi terakhir menyebutkan kedua pendaki itu terakhir terlihat pada tanggal 10 Juni di ketinggian lebih dari 5.000 meter.

Operasi pencarian akan dilanjutkan pada hari Jumat, dengan tim yang terdiri dari delapan orang, termasuk lima pendaki asal Jepang, yang akan melakukan pencarian dengan berjalan kaki untuk menemukan kedua pendaki tersebut.

Eskalasi Konflik di Kashmir Pakistan: Tiga Jiwa Terkorban dalam Bentrokan

mikephilipsforcongress.com – Sebuah insiden tragis telah mengguncang wilayah Kashmir Pakistan, dengan tiga jiwa yang terkorban dalam bentrokan antara pasukan paramiliter dan kelompok pengunjuk rasa. Pejabat pemerintah setempat, Nadeem Janjua, mengkonfirmasi bahwa tiga orang telah tewas karena tembak, dan delapan orang lainnya menderita luka-luka.

Aksi unjuk rasa yang melibatkan ribuan orang telah berlangsung sejak Jumat lalu, dengan eskalasi signifikan pada hari Senin, meskipun pemerintah telah menawarkan bantuan keuangan sebagai upaya penyelesaian. Pemerintah setempat telah memutuskan untuk mengirimkan pasukan paramiliter, yang dikenal sebagai Rangers, ke lokasi kejadian, dan sebagian besar layanan internet di wilayah tersebut telah dimatikan sebagai langkah antisipasi.

Dua orang yang tewas karena luka tembak telah dikonfirmasi oleh seorang dokter di Rumah Sakit Gabungan Militer. Di antara korban tewas terdapat seorang siswa yang masih berusia sekitar 16 atau 17 tahun, serta seorang laki-laki yang berusia tiga puluhan. Selain itu, seorang petugas polisi juga menjadi korban tewas dalam kekerasan yang meletus akhir pekan, dengan jumlah korban luka mencapai lebih dari 100 orang, menurut laporan resmi pemerintah.

Perdana Menteri wilayah Kashmir telah mengumumkan paket bantuan keuangan berupa subsidi listrik dan tepung sebagai tanggapan terhadap situasi yang semakin memburuk. Negosiasi antara pemerintah dan pihak-pihak yang terlibat dalam protes sedang berlangsung, dengan beberapa tuntutan yang telah dipenuhi dan beberapa yang masih dalam proses.

Asim Tariq, seorang siswa berusia 27 tahun, memberikan kesaksian tentang pengalaman menyedihkan ketika gas air mata menyebar hingga ke rumahnya, mempengaruhi kesehatan ibunya dan menimbulkan ketakutan akan kehilangan ibunya karena kondisi yang tidak aman di kota. Muhammad Qasim, seorang penjaga toko berusia 37 tahun, mengekspresikan rasa kekecewaan dan protes terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap para pengunjuk rasa.

Wilayah Kashmir, yang terletak di pegunungan Himalaya, merupakan wilayah yang terbagi antara India dan Pakistan, dengan kedua negara tersebut memiliki sejarah konflik yang panjang dalam upaya memperebutkan wilayah tersebut. Kashmir yang dikelola Pakistan memiliki status semi-otonom dengan sistem pemerintahan regional yang berdaulat.

Wilayah ini baru-baru ini dilanda krisis keuangan yang berat, yang menyebabkan terhambatnya impor, inflasi yang melonjak, dan depresiasi nilai rupee. Namun, dengan bantuan Dana Moneter Internasional, inflasi telah menurun dan nilai mata uang telah stabil. Sebuah tim dari lembaga keuangan global ini akan mengunjungi Pakistan akhir bulan ini untuk membahas kesepakatan terbaru dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi wilayah tersebut.